LIMA PULUH KOTA – Nagari Labuah Gunuang, Kecamatan Lareh Sago Halaban, memiliki sejarah panjang yang menjadi identitas kuat masyarakatnya hingga saat ini. Nama “Labuah Gunuang” berasal dari ungkapan lama “labuah diateh gunuang”, yang berarti jalan setapak untuk pulang pergi bagi penduduk di atas Gunung Sago. Wilayah awal kepenghuluan memang berada di bagian pinggang Gunung Sago, yang dulu dikenal dengan nama “Diateh Labuah Gunuang”.
Penduduk pertama Nagari Labuah Gunuang berasal dari kawasan Pariangan Padang Panjang, salah satu daerah yang diyakini sebagai asal mula orang Minangkabau. Seiring waktu, setelah air surut dan pemukiman bertambah ramai, kawasan ini berkembang menjadi nagari yang kita kenal sekarang.
Pembagian Kawasan Menurut Adat
Dalam adat salingka nagari, Labuah Gunuang terbagi ke dalam dua kawasan utama:
- Nagari (Rumah)
Membentang dari Segalo-galo Mudiak hingga Batu Balampin Hilia, mencakup wilayah Kapalo Koto hingga perbatasan Nagari Sitanang. Kawasan ini menjadi pusat kehidupan utama masyarakat. - Dangau
Merupakan wilayah luar, mulai dari Kapalo Koto hingga Kubang, Kayu Tanam, Talaweh, Parik, Batu Gajah, Dusun Nan Anam, Tarok Kabindu, dan kini telah berkembang sampai Banjar Sari.
Dalam adat Labuah Gunuang dikenal pepatah:
“Dangau tampek mancari, rumah tampek barabih, bari balabeh sapanjang adat Labuah Gunuang.”
Empat Suku Besar dan Dua Belas Kampuang
Nagari Labuah Gunuang terdiri dari empat suku adat yang menjadi pilar sosial masyarakat, yaitu:
- Piliang
- Pitopang
- Mandahiling
- Budi
Keempat suku tersebut terbagi ke dalam 12 kampuang, yakni:
- Piliang: Panjang, Kampuang Tongah, Tobiang, Tobek Lansek
- Pitopang: Godang, Lokuang, Babungo, Balai Jariang
- Mandahiling: Terpencil, Ateh, Baruah
- Budi
Struktur suku dan kampuang ini menjadi fondasi kuat dalam tatanan adat dan kehidupan bermasyarakat di Nagari Labuah Gunuang.
Pegawai Adat dan Dubalang Nagari
Keberlangsungan adat juga ditopang oleh tokoh-tokoh adat yang memegang peranan penting, yakni:
Pegawai Adat:
- Joni Eka Putra Borak
- Suar Tankayo
- Mardali Kulindan Suto
- Jayusman Malano Mokah
Dubalang (Penjaga Keamanan Adat):
- Zulpakri Anjolo
- Wisman Kotik Gadiang
- Limi Dt. Ombak
Tokoh-tokoh ini menjadi penjaga adat, keamanan, dan kebudayaan Nagari Labuah Gunuang agar tetap lestari lintas generasi.
Sejarah panjang, struktur adat yang kuat, serta identitas budaya yang melekat menjadikan Nagari Labuah Gunuang sebagai salah satu nagari dengan warisan tradisi paling kaya di Kabupaten Lima Puluh Kota.






